BAB
II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori
2.1.1 Pengertian Kualitas Pelayanan
Definisi kualitas jasa terpusat pada upaya
pemenuhan kebutuhan dan keinginan konsumen. Pernyataan ini dipertegas oleh Tjiptono
(2010:24) yang mengatakan bahwa
kualitas jasa adalah tingkat keunggulan yang diharapkan dan pengendalian atas
tingkat keunggulan tersebut untuk memenuhi keinginan pelanggan.”
Mauludin (2010:67) mengemukakan bahwa kualitas pelayanan
adalah seberapa jauh perbedaan antara kenyataan dan harapan pelanggan atas
langganan yang mereka terima atau peroleh.
Menurut Kotler (2012:49)
mengemukakan bahwa kualitas adalah keseluruhan ciri serta sifat dari suatu
produk atau pelayanan yang berpengaruh pada kemampuannya untuk memuaskan
kebutuhan yang dinyatakan atau tersirat.
Pujawan (2010:97) mendefinisikan kualitas pelayanan (service quality) sebagai hasil persepsi
dan perbandingan antara harapan pelanggan dengan kinerja aktual pelayanan yang terdapat 2 faktor utama yang mempengaruhi
kualitas jasa, yaitu expected service (pengalaman
yang diharapkan) dan perceived service (pelayanan
yang diterima).
Berdasarkan pengertian diatas dapat ditarik
kesimpulan adalah suatu kegiatan ekonomi yang outputnya bukan produk konsumsi,
bersamaan dengan waktu produksi dan memberikan nilai tambah (seperti
kenikmatan, hiburan, santai, sehat) bersifat tidak berwujud dan apabila jasa
yang diterima oleh pelanggan sesuai dengan yang diharapkan, maka kualitas
pelayanan dipersepsikan baik (ideal), dan sebaliknya jika pelayanan yang
diterima lebih rendah dari pada yang diharapkan konsumen, maka kualitas
pelayanan akan dipersepsikan jelek (kurang ideal), sehingga kebutuhan dan
keinginan konsumen merasa belum terpenuhi.
2.1.2 Dimensi
Kualitas Jasa/Pelayanan
Menurut
Kotler (2012:499-500),
menentukan bahwa ada 5 penentu mutu jasa. Kelimanya disajikan secara berurut
berdasarkan tingkat kepentingannya,
diantaranya :
1. Tangibles (bukti
langsung) adalah fasilitas fisik yang ditawarkan kepada konsumen yang meliputi
fisik, perlengkapan, pegawai dan saran komunikasi.
2. Emphaty (empati)
meliputi kemudahan dalam melakukan hubungan komunikasi yang baik, perhatian
pribadi dan memahami kebutuhan para pelanggan.
3. Reliability (keandalan)
adalah konsistensi dari penampilan dan kehandalan pelayanan yaitu kemampuan
perusahaan dalam memberikan pelayanan yang dijanjikan dengan segera, akurat dan
memuaskan.
4. Responsiveness (daya
tanggap) yaitu kesigapan dan kecepatan penyedia jasa dalam menyelesaikan
masalah dan memberikan pelayanan dengan tanggap.
5. Assurance (jaminan)
yaitu kemampuan dan keterampilan petugas, keramahan petugas, kepercayaan dan
keamanan.
Sementara itu, Tjiptono (2010:69) mengidentifikasikan 10 faktor atau
dimensi utama yang menentukan kualitas jasa. Kesepuluh faktor tersebut
meliputi:
1. Reliability, mencakup
2 pokok yaitu :
a) Konsistensi
kerja (performance)
b) Kemampuan
untuk dipercaya (Dependability)
Dalam hal ini perusahaan memberikan jasanya
secara tepat semenjak saat pertama (right
the first time) dan memenuhi janjinya. Misal menyampaikan jasanya sesuai
dengan jadwal yang disepakati.
2. Responsiveness, yaitu
kemauan atau kesiapan para karyawan untuk memberikan jasa yang dibutuhkan
pelanggan.
3. Competence, artinya
setiap orang dalam suatu perusahaan memiliki keterampilan dan pengetahuan yang
dibutuhkan agar dapat memberikan jasa tersebut.
4. Access, yaitu
meliputi kemudahan untuk dihubungi atau ditemui. Hal ini berarti lokasi
fasilitas jasa yang mudah dijangkau, waktu menunggu yang tidak terlalu lama,
saluran komunikasi mudah dihubungi, dan lain-lain.
5. Courtesy, yaitu
meliputi sikap sopan santun, respect, perhatian
dan keramahan yan dimiliki para contact
personel (seperti respsionis, operator telepon dan lain-lain).
6. Communication, artinya
memberikan informasi kepada pelanggan dalam bahasa yang dapat mereka pahami,
serta selalu mendengarkan saran dan keluhan para pelanggan.
7. Credibility, yaitu
sifat jujur dan dapat dipercaya. Kredibilitas mencakup nama perusahaan,
karakteristik pribadi, contact personel, dan
interaksi pelanggan.
8. Security, yaitu
aman dari bahaya, resiko atau dari keragu-raguan. Aspek ini meliputi keamanan
secara fisik (phisycal safety), keamanan
finansial (financial security), dan
kerahasiaan (confidentiality).
9. Understanding atau
knowing the costumer, yaitu usaha
untuk memahami pelanggan.
10. Tangible, yaitu
bukti fisik dari jasa yang berupa fasilitas fisik, peralatan yang dipergunakan,
dan reprentasi fisik dari jasa.
Menurut Saladin
(2012:91) menyatakan ada 10
faktor dalam service quality :
1. Kesiapan
sarana jasa (access).
2. Komunikasi
yang baik (communication).
3. Karyawan
harus terampil.
4. Hubungan
baik dengan konsumen.
5. Karyawan
harus berorientasi pada konsumen.
6. Harus
nyata.
7. Cepat
tanggap.
8. Keamanan
harus terjaga.
9.
Harus bisa dilihat.
10.
Memahami keinginan
konsumen.
2.1.3 Faktor-Faktor
Penyebab Buruknya Kualitas Pelayanan
Menurut Tjiptono
(2012:85) ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan kualitas suatu jasa
menjadi buruk, diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Produk
dan konsumsi yang terjadi secara simultan
Salah
satu karakteristik jasa yang sangat penting adalah inseparability, yang artinya jasa diproduksi dan dikonsumsi pada
saat yang bersamaan sehingga dalam memberikan jasa dibutuhkan kehadiran dan
partisipasi pelanggan. Akibatnya timbul masalah-masalah sehubungan dengan
adanya interaksi antara produsen dan konsumen jasa, yang disebabkan karena
tidak terampil dalam melayani pelanggan, penampilan yang tidak sopan, kurang
ramah, cemberut, dan sebagainya.
2. Intensitas
tenaga kerja yang tinggi
Keterlibatan
tenaga kerja yang intensif dalam penyampaian jasa dapat menimbulkan masalah
dalam kualitas, yaitu tingkat variabilitas yang tinggi disebabkan oleh tingkat
upah dan pendidikan karyawan yang masih relatif rendah, kurang perhatian, dan tingkat kemahiran
karyawan yang tinggi.
3. Dukungan
terhadap pelanggan internal yang kurang memadai
Karyawan
front line merupakan ujung tombak
dari sistem pemberian jasa. Supaya mereka dapat memberikan jasa yang efektif,
maka mereka perlu dapat pemberdayaan dan dukungan dari fungsi utama manajemen
sehingga nantinya mereka akan dapat mengendalikan dan menguasai cara melakukan
pekerjaan, sadar dan konteks dimana pekerjaan dilaksanakan, bertanggung jawab
atas output kinerja pribadi,
bertanggung jawab bersama atas kinerja unit dan organisasi, keadilan dalam
distribusi balas jasa berdasarkan kinerja dan kinerja kolektif.
4. Kesenjangan
komunikasi
Komunikasi merupakan faktor yang esensial
dalam kontrak dengan karyawan. Jika terjadi gap dalam komunikasi, maka akan menimbulkan penilaian dan persepsi yang
negatif terhadap kualitas
pelayanan. Kesenjangan komunikasi
dalam pelayanan meliputi memberikan janji yang berlebihan sehingga tidak dapat
memenuhinya, kurang menyajikan informasi yang baru kepada pelanggan, pesan
kurang dipahami pelanggan, dan kurang tanggapnya perusahaan terhadap keluhan
pelanggan.
2.1.4 Pengertian Jasa
Dalam kelancaran
dan perkembangan suatu perusahaan dalam menarik minat konsumennya tidak
terlepas dari jasa yang ditawarkan atau dipasarkan oleh suatu perusahaan. Pemasaran
merupakan jembatan penghubung antara organisasi dengan konsumennya. Peran
penghubung ini akan berhasil jika seluruh upaya pemasaran dioerientasikan
kepada konsumen.
Jasa memiliki keseragaman inti yang
dikemukakan oelh beberapa ahli, antara lain :
Menurut Alma (2010:204) menyatakan jasa adalah suatu kegiatan ekonomi yang
outputnya bukan berupa produk fisik, biasanya dikonsumsi secara bersamaan
seiring dengan produksinya, dan memberikan nilai tambah (seperti kenikmatan,
hiburan, santai atau kesehatan) yang pada intinya bersifat tidak berwujud bagi
pembelinya.
Menurut Kotler (2012:486)
mengemukakan jasa merupakan setiap tindakan atau kegiatan yang dapat ditawarkan
oleh salah satu pihak lain, yang pada dasarnya tidak berwujud (intangible) dan tidak mengakibatkan
kepemilikan apapun, produksinya dapat dikaitkan atau tidak dikaitkan dengan
suatu produk fisik.
Berdasarkan
beberapa pendapat yang telah dikemukakan diatas, maka dapat ditarik kesimpulan
bahwa jasa merupakan keseluruhan aktivitas ekonomi yang ditawarkan oleh
perusahaan kepada konsumen, yang pada dasarnya bersifat intangible (tidak berwujud fisik), tidak mengakibatkan kepemilikan
apapun yang tujuannya adalah untuk memberikan kepuasan bagi konsumen.
2.1.5 Karakteristik Jasa
Jasa sendiri mempunyai karakteristik yang
berbeda dengan proses manufaktur. Secara umum kita dapat melihat karakteristik
dari jasa berdasarkan pendapat beberapa ahli, diantaranya adalah sebagai
berikut :
1. Tidak
berwujud (intangibility), jasa tidak
dapat dilihat, dirasa, diraba, didengar atau dicium sebelum jasa itu dibeli
sehingga sebelum pembeli menggunakan jasa itu tersebut. Bukti dari kualitas
jasa tersebut harus diwujudkan oleh pemasar menjadi suatu wujud dari penawaran
abstrak mereka. Seperti pada perusahaan jasa yang harus ditempuh untuk
menciptakan kenyamanan dan keamanan pelanggannya, termasuk sikap karyawan yang
sopan dan ramah, juga dengan fasilitas yang bersih, sarana dan prasarana yang
baik, dan suasana yang nyaman yang berfungsi dengan baik. Sedangkan jasa
utamanya sendiri baru dirasakan pada saat pelanggan berkomunikasi langsung
dengan karyawan dalam meluangkan waktu berbicara, serta melayani pelanggan
disaat pelanggan mendapat masalah.
2. Tidak
terpisahkan (inseparability), jasa
dihasilkan dan dikonsumsi secara bersamaan. Perusahaan jasa sangat membutuhkan
kehadiran klien pada saat jasa dilakukan. Adanya interaksi ini merupakan cirri
khusus dari pemasaran jasa dan antara penyedia jasa dengan pengguna jasa akan
mempengaruhi hasil jasa.
3. Bervariasi
(variability), jasa sangat tergantung
pada siapa yang memberikan jasa tersebut, termasuk yang menerimanya dan kapan
saja diterimanya. Hal ini menyebabkan jasa sangat bervariasi, seperti profesi
dokter ada khusus bedah otak, gigi anak maupun dokter hewan. Dari para dokter
itu dipilih oleh beberapa orang sesuai dengan keandalan dan kualitasnya dalam
bekerja, dimana masyarakat akan melihat, menyeleksi dan memilih sendiri atau
berdasarkan informasi dan koleganya yang telah merasakan kualitas dari si
pemberi jasa. Berkaitan dengan para dokter tersebut tentu saja mempunyai
karakteristik berbeda selain dari keahliannya, dekorasi ruangan dan perawat
yang dipekerjakan juga sangat menentukan kualitas pelayanan pemasaran jasa.
4. Mudah
lenyap (perishability), karakteristik
jasa dimana jasa tersebut tidak bisa disimpan yang disebabkan karena dikonsumsi
bersamaan dengan produksinya sehingga begitu jasa telah terpenuhi maka selesai
pula prosesnya, dari situ akan dapat dilihat apakah proses penyampaian jasa
tersebut menimbulkan suatu kepuasan atau ketidak puasan dari penggunanya.
Dimana perusahaan dapat melihat indikasi yang menunjukan kepuasan, si pengguna
jasa tersebut akan menggunakan jasa tersebut atau kalau tidak puas dia akan
diam saja atau merekomendasikan kepada koleganya untuk tidak menggunakan jasa
yang dimaksud. Selain itu, untuk mengatasi karakteristik ini, perusahaan harus
melihat dari sisi penawaran dan permintaan, seperti apabila pemintaan
berfluktuasi apakah perusahaan mampu untuk menyediakan penawaran yang lebih
tanpa mengurangi kualitas jasa yang tidak distandarkan oleh perusahaan atau
bagaimana perusahaan menyikapi rendahnya permintaan terhadap penawaran
perusahaan tanpa memberikan suatu beban biaya pada pelanggannya dalam
memberikan suatu pelayanan yang terbaik pada pengguna jasa. Dengan demikian
perusahaan harus berusaha mempertemukan kesesuaian diantara dua sisi tersebut
agar karakteristik ini tidak hilang begitu saja tanpa memberikan kesan terbaik
dan perasaan yang berkesan bagi penggunanya.
Menurut
Alma (2010:24)
mengungkapkan beberapa perbedaan antara jasa dengan barang, sebagai berikut :
1. Pembeli
jasa sangat dipengaruhi oleh motif yang didorong oleh emosi.
2. Jasa
bersifat tidak berwujud, berbeda dengan barang yang bersifat berwujud, dapat dilihat,
dirasa, dicium, memiliki berat, dan sebagainya.
3. Barang
bersifat tahan lama, tetapi jasa tidak. Jasa dibeli dan dikonsumsi pada waktu
yang sama.
4.
Barang dapat
disimpan, sedangkan jasa tidak dapat disimpan.
5.
Ramalan permintaan
dalam marketing jasa, untuk
menghadapi masa-masa puncak, dapat dilatih dengan tenaga khusus.
2.1.6 Macam-Macam Jasa
Menurut
Alma (2010:26),
macam-macam jasa dapat dikelompokkan sebagai berikut :
1. Personalized Service
Jasa
ini sangat bersifat personal, yang tidak dapat dipisahkan dari orang yang
menghasilkan jasa tersebut. Oleh sebab itu pelayanannya harus langsung
ditangani sendiri oleh produsennya. Personalized
service dapat digolongkan lagi kedalam 3 golongan yaitu :
a) Personel Service
Personal service adalah
jasa yang sangat mengutamakan pelayanan orang dan perlengkapannya seperti
tukang cukur, salon kecantikan, laundry,
fotografi.
b) Profesional Service
Orang-orang
yang memiliki profesi, dalam marketing
approach-nya biasanya menunggu
langganan. Jika memuaskan langganan yang pernah datang akan kembali lagi di lain
waktu, jadi yang penting disini adalah harus adanya reputasi yang baik.
c) Business Service
Dalam
marketing business service ini
seperti usaha Akuntansi dan biro konsultan lain, sistem marketingnya juga agak bersifat tidak langsung. Mereka lebih senang
oleh langganan-langganan baru untuk memberikan jasa-jasanya.
2. Financial Service
Financial service terdiri
dari :
a) Banking service (Bank)
b) Insurance service (Asuransi)
c) Investment securities
(Lembaga
Penanam Modal)
3. Public utility and
Transportation Service
Perusahaan
public utility mempunyai monopoli
secara ilmiah, misalnya perusahaan listrik dan air minum. Sedangkan dalam transportation service adalah meliputi
angkutan kereta api, kendaraan umum, pesawat udara dan lain sebagainya.
4. Entertainment
Yang termasuk dalam kelompok ini adalah
usaha-usaha dibidang olah raga, bioskop, gedung pertunjukan usaha-usaha hiburan
lainnya.
5. Hotel Service
Hotel
bukan merupakan suatu objek pariwisata melainkan merupakan salah satu sarana
dalam bidang kepariwisataan, maka dalam hal ini hotel perlu mengadakan kegiatan
bersama dengan tempat-tempat reaksi, hiburan, travel biro, dan lain-lain, untuk
menonjolkan sesuatu yang khas dari suatu objek wisata, agar dapat menjadi daya
tarik dari daerah yang bersangkutan.
Jasa
yang dapat ditawarkan oleh bidang perhotelan ini adalah secara khusus
ditawarkan dalam bidang perhotelan :
a) Fasilitas
penyediaan atau penyewaan kamar.
b) Fasilitas
penyediaan ruang konferensi atau ruang sidang.
c) Menyediakan
penukaran valuta asing.
d)
Menjual makanan dan
minuman.
e)
Fasilitas lainnya
yang meliputi laundry, swimming pool, telpon dan lain-lainnya.
2.1.7 Mengelola Mutu Jasa
Sebuah perusahaan
jasa dapat memenangkan persaingan dengan menyampaikan secara konsisten layanan
yang bermutu lebih tinggi dibandingkan para pesaing dan yang lebih tinggi dari
pada harapan pelanggan.
Menurut
Kotler (2012:498)
mengidentifikasi 5
(lima) kesenjangan yang timbul akibat kinerja pelayanan yang disampaikan oleh
perusahaan jasa dengan harapan konsumen, yaitu:
1. Kesenjangan
antara harapan konsumen dan persepsi manajeman, dimana manajeman tidak selalu
memahami secara tepat apa yang diinginkan pelanggan.
2. Kesenjangan
antara persepsi manajeman dengan spesifikasi kualitas jasa, dimana manajeman
mungkin memahami secara tepat keinginan pelanggan tapi tidak menetapkan suatu
set standar kinerja spesifik.
3. Kesenjangan
antara spesifikasi kualitas jasa dan penyampaian jasa, dimana para personil
mungkin kurang terlatih atau tidak mampu atau tidak mau memenuhi standar, atau
mereka dihadapkan pada standar yang berlawanan, seperti menyediakan waktu untuk
mendengarkan para pelanggan dan melayani mereka dengan cepat.
4.
Kesenjangan antara
penyampaian jasa dan komunikasi internal, dimana harapan konsumen dipengaruhi
oleh pernyataan yang dibuat oleh pihak manajeman atau iklan perusahaan.
5.
Kesenjangan antara
jasa yang dialami dan jasa yang diharapkan, kesenjangan yang terjadi akibat
memilki persepsi yang keliru tentang kualitas jasa tersebut.
2.1.8 Strategi
Meningkatkan Kualitas Jasa
Meningkatkan kualitas pelayanan merupakan hal
yang sangat penting agar dapat menghadapi persaingan yang semakin ketat dan
tetap eksis di era globalisasi. Banyak faktor yang harus dipertimbangkan dalam
meningkatkan kualitas pelayanan karena hal ini akan berdampak baik langsung
maupun tidak langsung terhadap organisasi secara keseluruhan.
Menurut Tjiptono (2010:88) ada beberapa faktor dominan yang perlu
diperhatikan untuk meningkatkan kualitas pelayanan, diantaranya :
1. Mengidentifikasi
determinan utama kualitas jasa
Setiap
perusahaan jasa berupaya memberikan kualitas pelayanan jasa yang terbaik kepada
para pelanggannya, perlu melakukan riset untuk mengidentifikasi jasa dominan
yang paling penting bagi pasar sasaran terhadap perusahaan serta berdasarkan
determinan tersebut, sehingga diketahui posisi relatif perusahaan di mata
pelanggan dibandingkan dengan para pesaing agar dapat memfokuskan peningkatan
kualitasnya pada aspek dominan tesebut.
2. Mengelola
harapan pelanggan
Tidak
jarang suatu perusahaan berusaha melebih-lebihkan pesan komunikasinya kepada
pelanggan agar mereka terpikat. Hal seperti ini dapat menjadi boomerang bagi
perusahaan karena semakin banyak janji yang diberikan maka semakin besar pula
harapan pelanggan yang pada gilirannya akan menambah peluang tidak dapat
terpenuhinya harapan pelanggan oleh perusahaan.
3.
Mengelola bukti (evidence) kualitas jasa
Mengelola
bukti (evidence) kualitas jasa
bertujuan untuk memperkuat persepsi pelanggan selama dan sesudah jasa
diberikan. Oleh karena itu, jasa merupakan kinerja dan tidak dapat dirasakan
seperti barang, maka pelanggan cenderung untuk memperhatikan faktor tangible yang berkaitan dengan jasa
sebagai bukti kualitas. Dari sudut pandang perusahaan jasa, bukti langsung
meliputi segala sesuatu yang dipandang konsumen sebagai indikator seperti apa
jasa yang diberikan (preservive expection)
dan seperti apa saja yang telah diterima (postservice
evaluation).
4.
Mendidik konsumen
tentang jasa
Membantu
pelanggan dalam memahami merupakan upaya yang sangat positif dalam rangka
menyampaikan kualitas jasa. Pelanggan yang terdidik akan dapat mengambil
keputusan yang lebih baik sehingga kepuasan mereka dapat tercipta lebih tinggi.
Upaya mendidik konsumen ini dapat dilakukan dalam bentuk melakukan pelayanan
sendiri, membantu pelanggan kepada menggunakan sesuatu jasa, bagaimana
menggunakan jasa, dan menjelaskan kepada pelanggan alasan-alasan yang mendasari
kebijaksanaan yang bisa mengecewakan mereka.
5.
Mengembangkan budaya
kualitas
Budaya kualitas merupakan sistem nilai
organisasi yang menghasilkan lingkungan yang kondusif bagi pembentukan dan
penyempurnaan kualitas secara terus menerus.
Budaya kualitas terdiri dari filosofi, keyakinan, sikap, norma, nilai tradisi,
prosedur, dan harapan yang meningkatkan kualitas. Agar dapat menciptakan budaya
kualitas yang baik maka dibutuhkan komitmen menyeluruh pada seluruh anggota
organisasi.
2.1.9 Pengertian Kepuasan Pelanggan
Menurut
Tjiptono dan Chandra
(2011:292) kata kepuasan (satisfaction) berasal dari bahasa Latin “satis”
(artinya cukup baik, memadai) dan “facio” (melakukan atau membuat).
Kepuasan bisa diartikan sebagai “upaya pemenuhan sesuatu” atau “membuat sesuatu
memadai”.
Menurut Lovelock dan Wirtz (2011:74) kepuasan adalah suatu sikap
yang diputuskan berdasarkan pengalaman yang didapatkan. Sangat dibutuhkan
penelitian untuk membuktikan ada atau tidaknya harapan sebelumnya yang
merupakan bagian terpenting dalam kepuasan.
Sedangkan menurut Oliver sebagaimana dikutip
Tjiptono dan
Chandra (2011:294) kepuasan adalah fenomena rangkuman atribut bersama-sama
dengan emosi konsumsi lainnya.
Kajian literatur kepuasan pelanggan yang
dilakukan Giese dan
Cote sebagaimana dikutip Tjiptono dan
Chandra (2011:292) mereka mendefinisikan 20 definisi yang diacu dalam riset
kepuasan pelanggan selama periode waktu 30 tahun, meskipun definisi-definisi
tersebut bervariasi (bahkan beberapa diantaranya saling tidak konsisten satu
sama lain), kedua pakar dari Washington State University ini menemukan kesamaan
dalam hal tiga komponen utama, yaitu
:
1. Kepuasan pelanggan merupakan respon
(emosional atau kognitif)
2. Respon tersebut menyangkut fokus tertentu
(ekspektasi, produk, pengalaman konsumsi, dan seterusnya)
3. Respon terjadi pada waktu tertentu (setelah
konsumsi, setelah pemilihan produk/jasa, berdasarkan pengalaman akumulatif, dan
lain-lain)
Menurut
Gaspersz) 2011:36) pelanggan
adalah semua orang yang menuntut kita (atau perusahaan) kita untuk memenuhi
suatu standar kualitas tertentu dan oleh karena itu akan memberikan pengaruh
pada kinerja (performance) kita (atau perusahaan kita).
Manajemen
perusahaan L.L.Bean, Freeport, Maine sebagaimana dikutip Gaspersz (2011:36)
memberikan beberapa definisi tentang pelanggan sebagai berikut :
1. Pelanggan adalah orang yang tidak tergantung
pada kita, tapi kita yang tergantung pada dia.
2. Pelanggan adalah orang yang membawa kita
kepada kebutuhannya.
3. Tidak ada seorangpun yang pernah menang
beradu argumentasi dengan pelanggan.
4. Pelanggan adalah orang yang teramat penting
yang harus dipuaskan.
Engel dalam Tjiptono dan Chandra (2011:292) menyatakan bahwa kepuasan
pelanggan merupakan evaluasi purnabeli dimana alternatif yang dipilih sekurang
kurangnya sama atau melampaui harapan pelanggan, ketidakpuasan muncul apabila
hasil tidak memenuhi harapan.
Kepuasan pelanggan menurut Gaspersz
(2011:38–39) dinyatakan sebagai rasio :
Z
= X/Y, dimana Z adalah kepuasan pelanggan, X adalah kualitas yang dirasakan
oleh pelanggan, dan Y adalah kebutuhan-kebutuhan pelanggan. Jika pelanggaan
merasakan bahwa kualitas dari produk melebihi kebutuhan maka kepuasan pelanggan
akan menjadi tinggi atau paling sedikit bernilai lebih besar dari satu (Z >
1). Sedangkan pada sisi lain apabila pelanggan merasakan bahwa kualitas dari
produk lebih rendah atau lebih kecil dari kebutuhan mereka, maka kepuasan
pelanggan akan menjadi lebih atau bernilai lebih kecil dari satu (Z < 1).
Dari
berbagai pendapat yang dilontarkan para ahli, bisa disimpulkan definisi
kepuasan pelanggan adalah respon dari perilaku yang ditunjukkan oleh pelanggan
dengan membandingkan antara kinerja atau hasil yang dirasakan dengan harapan.
Apabila hasil yang dirasakan dibawah harapan, maka pelanggan akan kecewa,
kurang puas bahkan tidak puas, namun sebaliknya bila sesuai dengan harapan
pelanggan akan puas dan bila kinerja melebihi harapan pelanggan akan sangat
puas.
2.2 Penelitian Terdahulu
Menurut Zagladi,
dkk (2012:34) penelitian terdahulu yang digunakan penulis adalah sebagai dasar
dalam penyusunan penelitian bertujuan untuk mengetahui hasil yang telah
dilakukan oleh peneliti terdahulu, sekaligus sebagai perbandingan dan gambaran
yang dapat mendukung kegiatan penelitian berikutnya yang sejenis.
Berikut merupakan
review atas penelitian terdahulu :
1. Ardhiani, Ita Riana, 2009,
denagn judul “Pengaruh Dimensi Kualitas Layanan Jasa Terhadap Keputusan
Pembelian (Studi Pada Konsumen Araya Golf & Family Club)”
Variabel
yang diteliti adalah masalah dimensi kualitas jasa sebagai variabel bebas (X)
yang terdiri atas reliability (X1), responsiveness (X2), assurance (X3),
emphaty (X4), dan tangibles (X5), dan variabel terikat (Y) dalam hal ini
terhadap keputusan pembelian. Instrumen penelitian yang digunalan adalah
kuisioner tertutup dengan menggunakan skala likert dengan 5 pilihan
jawaban dan disebarkan kepada 75 responden sebagai sampel dengan menggunakan tehnik Purposive
Sampling. Analisis yang
dilakukan adalah analisis regresi berganda.
Berdasarkan hasil analisis data secara
parsial diketahui bahwa dimensi kualitas layanan jasa yang terdiri atas reliability,
responsiveness, assurance, emphaty, tangibles yang telah diterapkan oleh
Araya Golf & Family Club Malang telah mampu menarik respon baik dari
konsumen. Secara simultan dimensi kualitas layanan jasa memiliki pengaruh
positif signifikan terhadap keputusan pembelian.
2. Ajhiyang Pangandel
Triupayanto,
2012,
denagn judul “Analisis Pengaruh Kualitas Pelayanan Inti Dan Kualitas Pelayanan Periferal
Melalui Kepuasan Konsumen Pada Minat Mereferensikan Jasa Pengguna Jasa
Lapangan Futsal Di Knight Futsal Center, (Studi kasus Pada Seluruh
Konsumen Pengguna Jasa Lapangan Futsal di Knight Futsal Center Semarang)”
Data
dikumpulkan melalui metode kuesioner terhadap 100 orang responden/pengguna jasa
lapangan futsal di Knight Futsal Center yang diperoleh dengan
menggunakan teknik Non Probability Sampling. Analisis yang dilakukan
adalah analisis regresi ganda, adapun tahap – tahap pengujiannya adalah uji
validitas, uji reliabilitas, uji asumsi klasik, analisis regresi ganda,
pengujian hipotesis melalui Uji F dan Uji t, dan koefisien determinasi.
Dari analisis regresi pengaruh paling besar terhadap minat
mereferensikan jasa (Y2) yaitu variabel kualitas inti (X1), selanjutnya diikuti
oleh variabel kualitas peripheral (X2) dan kepuasan konsumen. Perusahaan
KNIGHT Futsal Center perlu mempertahankan elemen-elemen yang sudah dinilai baik oleh pemakai
jasa lapangan futsal serta perlu memperbaiki hal-hal yang masih kurang.
3. Wendi Ardiawan Happy, 2009,
dengan judul “Pengaruh Kualitas Pelayanan Terhadap Kepuasan Pelanggan (Studi
Kasus Pada Luwes Loji Wetan Solo)”
Teknik
pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode convenience sampling,
yaitu pengambilan sampel berdasarkan pada ketersediaan elemen dan kemudahan
untuk mendapatkannya, dengan
kata lain sampel tersebut ada pada tempat dan waktu yang tepat. Dengan tingkat
pengambilan sampel tersebut maka diperkirakan sampel yang akan diambil kurang
lebih 210 responden yang ada di Luwes Loji Wetan Solo yang dimana diterapkan
penambahan informasi-informasi lain dengan memaksimalkan teknik pengumpulan data
yang ada, dalam hal ini mengambil 10% dari total jumlah pelanggan toserba Luwes
yang jumlahnya 2100 pelanggan. Data yang diperoleh dari adanya penelitian ini
adalah data yang bersifat kualitatif. Dari data kualitatif diubah menjadi data
yang bersifat kuantitatif dengan menggunakan skala likert untuk
tujuan analisis. Analisis yang dilakukan
adalah analisis regresi berganda.
Berdasarkan
hasil pengujian hipotesis diketahui bahwa bukti langsung (X5) merupakan
variabel yang paling dominan yang mempengaruhi kepuasan pelanggan. Hal ini
dibuktikan dengan besarnya koefisien korelasi bukti langsung (X5) sebesar 0,801
yang merupakan nilai koefisien korelasi terbesar yang paling signifikan
dibandingkan variabel lainnya dan nilai thitung yang lebih besar dari (12,545 > 1,97). Variabel bukti langsung
merupakan variabel yang dominan dalam mempengaruhi kepuasan pelanggan.
2.3 Kerangka
Berpikir
![]() |
Gambar 2.1 : Kerangka Berpikir
Sumber : Data Diolah Peneliti (2014)

2 komentar:
bisa minta refrensi jurnalnya kk ?
Harrah's Casino - Mapyro
Harrah's Casino Las Vegas. 777 태백 출장안마 Harrah's Blvd. S. Las Vegas, 전라북도 출장샵 NV 89109. Directions · 아산 출장샵 (702) 770-3377. Call Now · More 군산 출장안마 Info. 청주 출장안마 Hours, Accepts Credit Cards, Attire, Wi-Fi,
Posting Komentar